Cerita Sex LDR? Mana Tahan~ ( Nisa Dan Rudi ) – Part 14

Cerita Sex LDR? Mana Tahan~ ( Nisa Dan Rudi ) – Part 14by adminon.Cerita Sex LDR? Mana Tahan~ ( Nisa Dan Rudi ) – Part 14LDR? Mana Tahan~ ( Nisa Dan Rudi ) – Part 14 *empat belas* -Rudi- “Ga usah bahas dada aku atau aku matiin!” Nisa berkata kesal di seberang telepon. “Nisa mah gitu, aku kan lagi horny sayang. Kamu juga sih bikin aku menderita,” jawabku dengan nada memelas. “Menderita kenapa? Rudi ga punya duit?” Nisa bertanya kepadaku. […]

multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-7 (1) multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-7 multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-8 (1)LDR? Mana Tahan~ ( Nisa Dan Rudi ) – Part 14

*empat belas*
-Rudi-

“Ga usah bahas dada aku atau aku matiin!” Nisa berkata kesal di seberang telepon.

“Nisa mah gitu, aku kan lagi horny sayang. Kamu juga sih bikin aku menderita,” jawabku dengan nada memelas.

“Menderita kenapa? Rudi ga punya duit?” Nisa bertanya kepadaku. Terdengar ia menahan senyum.

Aduh, kok aku jadi dikerjain Nisa sih.

“Ya menderita lah yang, aku uda terangsang gini, tapi ga bisa ngapa-ngapain kamu. Mana kamu juga kirim foto susu segala,” jawabku sedikit ketus. Terangsang tapi ga ada pelampiasan gini, ga enak banget deh rasanya.

“Rudi ngomongnya vulgar! Sensor kek! Oh iya, kamu uda lama ga dapet jatah ya? Hihihi,” Nisa tertawa bahagia. Terbayang ekspresi Nisa penuh kemenangan di dalam otakku.

“Tuh, kamu sendiri aja tau. Aku uda ga tahan, yang. Harus dikeluarin,” aku berkata dengan lirih, berharap Nisa mau membantuku

“Ya uda keluarin aja, biasanya juga keluar sendiri kan?”

“Biasanya kan Nisa yang bantuin. Sekarang aja aku sambil liatin foto susu kamu loh yang.”

“Idih! Apaan liat-liat? Apus ga fotonya!

“Mau aku print trus aku pigurain yang. Apalagi yg foto kamu mau buka celana ini, mau aku cetak ukuran poster terus pajang di dinding kamar,” aku menggoda Nisa. Tapi, kayaknya seru juga kalau beneran aku jadiin poster.

“Awas ya macam-macam! Aku ga kasih jatah lagi nanti!”

Ya ampun, Nisa sekarang uda bisa ngancem aku coba.

“Makany bantuin yaaang.”

“Bantuin gimana?”

“Hmmm, kita phone sex yu, sayang,” aku mencoba membujuk Nisa untuk membantuku. Mudah-mudahan Nisa mau, hehehe.

“Phone sex?!? Rudiiii!” Nisa berteriak histeris, membuatku terpaksa menjauhkan handphoneku sesaat. Gawat nih, aku malah bikin Nisa ngamuk.

“Eh,eh, kalau Nisa ga mau ga usah kok. Jangan marah ya,” aku mencoba menenangkan Nisa.

“Bodo! Aku mau nonton tv aja! Kamu ngomong aja sendiri!” bentak Nisa sambil menyalakan televisi.

“Nisaaa.”

“Sayaaaang.”

Yah, aku didiemin.

“Rudi! Nyalain tv! Nonton Net. TV sekarang! Cepet!” Nisa tiba-tiba menyuruhku untuk menyaksikan salah satu acara televisi. Aku pun langsung mencari channel tersebut, penasaran juga apa yang sedang Nisa saksikan.

Dering teleponku membuatku tersenyum di pagi hari
Kau bercerita semalam kita bertemu dalam mimpi
Entah mengapa aku merasakan hadirmu di sini
Tawa candamu menghibur saatku sendiri
Oh, ternyata salah satu acara musik sedang memutar video klip dari Ran. Aku dan Nisa mendengarkan lagu tersebut dalam diam.

Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku slalu menunggu saat kita akan berjumpa
Kok tiba-tiba aku jadi ngerasa mellow gini ya. Aduh, aku uda jahat banget sama Nisa.

Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati
“Nisa,” aku memanggilnya lembut.

“Hmm,” dia menjawab ala kadarnya. Kayaknya Nisa masih marah sama aku.

“Sayang, maaf ya aku jahat sama kamu. Aku egois. Malah maksa kamu ngelakuin hal yang engga kamu suka,” kataku dengan penuh perasaan, berharap Nisa merasakan kalau aku benar-benar menyesal telah membuatnya marah.

Dering teleponku membuatku tersenyum di pagi hari
Tawa candamu menghibur saatku sendiri
“Nanti kalau aku sudah pulang nanti, aku mau minta libur 3 hari. Kita liburan ke pulau Tidung ya, sekalian honeymoon kecil-kecilan.”

Nisa masih tak menjawabku. Aku kembali terdiam.

Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku slalu menunggu saat kita akan berjumpa

Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati

Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku slalu menunggu saat kita akan berjumpa

Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun kau dekat di hati

Jarak dan waktu takkan berarti
Karena kau akan selalu di hati
Bagai detak jantung yang kubawa kemanapun kupergi

Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati
Dekat di hati
“Ru-rudi tadi minta apa? Aku mau, kasian Rudi. Aku harus gimana?” tiba-tiba Nisa bertanya dengan malu-malu. Aku shock.

“Eh, engga usah. A-aku uda ga mau,” aku menjawab terbata-bata. Aku terharu. Nisa rela melakukan sesuatu yang dia tidak suka demi aku. Jadi makin mellow deh.

“Ga apa-apa, aku mau jadi istri berbakti buat Rudi. Aku ga mau Rudi menderita.”

Aku semakin merasa bersalah mendengar Nisa berkata seperti itu.

“Ga Nisa, aku uda ga mau lagi. Sekarang mau romantisan aja sama kamu,” kataku dengan sangat amat bijak.

“Bener?” Nisa bertanya tak percaya.

“Bener!”

“Yakin?” lagi-lagi Nisa bertanya dengan lirih.

“Yakin Nisa sayang!”

“Rudi ga nyesel?” Nisa bertanya lagi dengan lembut dan terdengar ikhlas. Suaranya bikin aku makin merasa sedih sudah menjadi lelaki egois. Nisa sampai mau seperti ini.

“Engga Nisa! Aku ga nyesel!” aku berkata mantap.

“Ya udah.”

….

………

………….

……………….

……………………….

Eh, tapi sayang juga ya, Nisa uda mau phone sex gini.

“By the way sayang, kamu lagi pake baju apa sekarang?” tanyaku sambil berusaha membayangkan Nisa saat ini.

“Aku? Ga pake, cuma selimutan doang.”

Ga pake? Selimutan doang?

“Yaaang.”

“Apa Rudi?”

“Aku mau nusuk kamu.”

Author: 

Related Posts